Rabu, 24 Juli 2019

Cari Lobster di Laut Selatan

Edit Posted by with No comments
Hellow, selamat datang di blogku, dikesempatan kali ini aku akan sedikit bercerita mengenai pengalamanku. Sekitar bulan Maret 2019 yang lalu, aku melaksanakan penelitian untuk tugas akhirku di kampus. Iya, aku mahasiswi jurusan Perikanan, tepatnya Departemen Perikanan Tangkap. Aku mengambil topik skripsi alat tangkap krendet dengan metode experimental fishing.
Alat tangkap krendet merupakan suatu alat yang digunakan untuk menangkap Lobster di laut, krendet sendiri termasuk dalam klasifikasi traps atau perangkap. Untuk tahu lebih lanjut silahkan KLIK DISINI
nikhlatul maula
ga tau lagi ngapain 
Aku memilih lokasi di Pacitan, Jawa Timur. Bersama temanku yang bernama Leni, kami melaksanakan penelitian bersama, tapi dengan topik yang berbeda. Banyak banget lika-liku selama melakukan penelitian ini. Hingga sempat kepikiran "Apa aku salah ambil judul?" Pertanyaan itu terus menghantui aku selama hampir dua minggu, ya lantaran karena tidak ada progress positif di penelitian ini. Penyebabnya adalah cuaca yang tidak menentu. Waktu itu di Pacitan sering turun hujan, hal itu menyebabkan gelombang air laut menjadi tinggi. Sehingga aku tidak bisa melakukan operasi penangkapan dengan baik.

Awal mula aku mencari nelayan yang bisa kuajak kerja sama untuk melakukan penelitian ini di sekitar Pelabuhan Tamperan. Memang aku sudah pernah melakukan survey sebelumnya, sekitar bulan November tahun 2018. Sedangkan penelitian ini aku laksanakan sekitar akhir bulan Februari hingga April 2019. Namun, kenyataan tidak berpihak kepadaku. Hasil surveyku dulu sia-sia. Nelayan yang waktu itu kurasa bisa kuajak kerja sama, ternyata tidak dapat melakukan itu. Pupus sudah harapanku... Sekitar tanggal 29 Februari 2019 aku melakukan survey (lagi), tujuannya untuk mencari nelayan. Beberapa kali mendapat penolakan, hingga pada akhirnya aku bertemu nelayan yang pas. Namanya Pak Sikus, sudah punya 3 cucu kalau tidak salah. Aku mendapat pinjaman 12 krendet darinya, yang kemudian krendet itu aku lakukan modifikasi warna jaring dengan di beri pewarna nylon. Seharusnya aku memakai pewarna jaring, tapi waktu itu aku belum kepikiran sampai situ dan hanya memakai pewarna nylon saja.
cari lobster di laut selatan
bersama krendet
Sayangnya pak Sikus tidak bisa melakukan operasi penangkapan bersamaku. "Tidak ada umpan" begitu kata beliau. Selang beberapa hari aku pergi ke daerah Watukarung, perjalanan 30 menit dari penginapanku di rumah Budhenya Leni. Disana aku diarahkan oleh orang-orang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Watukarung untuk bertemu pak Rari. Pak Rari ini nelayan krendet yang biasa melakukan setting (pemasangan alat tangkap di laut) dengan cara menyelam. Dengan alasan yang sama, Pak Rari tidak dapat kuajak untuk mencari Lobster. Kemudian aku disarankan untuk bertemu dengan Pak Sunari di daerah Tawang. Sekitar 30 menit perjalanan. "Kamu bertemu dengan orang yang tepat" begitu kata beliau. Senang rasanya, akhirnya aku bisa melakukan penelitianku bersama dengan Pak Sunari. Aku pun menginap di rumah Pak Sunari, disini aku merasa seperti menemukan keluarga baru. Pak Sunari tidak melaut sendiri, beliau biasa melaut bersama Pak Sis. Pak Sunari bertugas untuk melakukan setting alat tangkap, sedangkan Pak Sis sebagai juru kemudi perahu.

nikhlatul maula cari lobster
laut Pacitan cantik banget, kamu harus melihatnya langsung
Kami melakukan operasi penangkapan saat gelombang air laut tidak terlalu tinggi dan cuaca mendukung. Untuk mengetahui hal itu kami berpedoman pada website Magic Seaweed. Tapi meskipun kata nelayan gelombang air laut saat itu lagi bagus (tidak besar dan tidak juga kecil), tapi saat proses setting aku merasa gelombangnya tinggi banget. Perahu yang kami naiki hampir tidak bisa diam, mengikuti goyangan gelombang air laut. Bahkan dalam suatu kesempatan, perahu kami seperti mau dilempar dari laut, saking besarnya ombak. Memang sih, saat itu posisi kita berada di dekat tebing-tebing yang ada di laut, dan aku baru tahu kalau ternyata tebing itu merupakan pulau. Pulau yang sangat kecil, aku juga baru tahu saat cek lokasi kami di Google Earth.
cari lobster
aku satu perahu dengan mereka 
"Lobster biasanya tinggal di perairan yang ekstrim" kata Pak Sunari. Pantas saja, lokasi kemarin nyeremin banget, tapi asyik sih, aku justu menikmati operasi penangkapannya. Nah, untuk menarik perhatian Lobster tentunya dibutuhkan umpan, umpan yang digunakan yaitu krunken. Mungkin suatu saat nanti aku bakal bahas mengenai umpan krunken, tapi di blog Toga Ikan aja yah..
cari lobster di pantai selatan
ini namanya krunken
Untuk operasi penangkapan, setting kami lakukan pada sore hari sedangkan hauling (pengambilan alat tangkap dari laut) dilakukan pada keesokan harinya, saat subuh. Nah seperti ini salah satu gambar hasil tangkapan yang kami peroleh, sepertinya enak kalo di masak :)
cerita nikhlatul maula
gendut bangettttt
Aku sangat bersyukur mengambil topik penelitian tentang ini, meskipun jalan yang kulalui tidak mudah, tapi pengalaman yang kudapat pun tidak ternilai harganya. Tidak semua orang dapat merasakan apa yang kurasakan kala itu. Karna tidak semua orang dapat merasakan asyiknya mencari Lobster di laut bersama nelayan. Semoga ini bukan trip terakhirku, aku ketagihan mengikuti operasi penangkapan yang asyik seperti ini. Oh ya, terima kasih sudah membaca ceritaku ini. Semoga kamu selalu di beri kelancaran atas apa yang sedang kamu usahakan.

Agar kamu tahu betapa serunya cari Lobster di Pantai Selatan, kamu dapat melihatnya melalui video operasi penangkapan Lobster yang dapat kamu lihat di:
SINI bila ingin menonton di YouTube; dan
DISINI bila ingin menonton di Instagram



0 komentar:

Posting Komentar